Di luar pekerjaan, saya berusaha untuk menghormati dan melayani orang lain.
Mungkin karena kami keluarga, tapi aku tidak bisa melakukan itu pada suami dan anak-anakku.
Ada banyak momen ketika saya merasa kesal dan menunjukkan hal-hal tanpa menyadarinya.
Namun kemudian saya menyadari bahwa putra saya sering keluar rumah dan menggunakan kata-kata kasar.
Setelah konsep bahasa cinta muncul, saya pikir saya harus mempraktikkan kesembilan bahasa cinta itu setiap hari.
Saat berbicara dengan keluarga, meskipun anak itu melakukan kesalahan, mereka akan memeluknya dan berkata, "Tidak apa-apa."
Saya mulai memuji suami dan anak-anak saya bahkan untuk hal-hal kecil dan sepele.
Sehingga keluarga tersebut menjadi lebih damai dan penuh keharmonisan.
Saya telah melihat perubahan yang sangat besar pada anak saya sejak ia mulai menggunakan bahasa cinta yang sama.
Semakin lama semakin wajar bagi kita untuk menggunakan bahasa cinta saat berbicara satu sama lain.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa masalah bicara anak saya adalah 'masalah saya'.
Saya sangat bersyukur dan kagum betapa banyak hal yang bisa berubah dengan bahasa kasih sayang seorang ibu.