Karena perselisihan kecil dengan saudari yang menjalankan gereja bersama, jarak di antara kami semakin bertambah. Seiring waktu, percakapan kami terhenti dan pertemuan satu sama lain menjadi pengalaman yang tidak nyaman. Meskipun kami berpikir bahwa hubungan tersebut harus diperbaiki, situasinya menjadi semakin buruk dan jarak kami semakin jauh. Meskipun kami mempelajari ajaran seperti kasih, persatuan, dan rasa hormat di gereja, kami merasa menyalahkan diri sendiri ketika kami tidak dapat menerapkannya dalam praktik.
Suatu hari, aku kebetulan bertemu saudari itu di taman. Saat saya merenungkan apakah akan berdiam diri sejenak, saya teringat “bahasa cinta seorang ibu”. Mengumpulkan keberanian, saya berjalan ke depan sambil tersenyum dan menyapanya dengan hormat. Pada saat itu, jarak diantara kami menghilang dalam sekejap, dan dia pun membalas sapaannya dengan senyuman bahagia.
Sejak saat itu, kami dapat kembali menjalin hubungan baik dan dapat bekerja sama. Pada saat itu, saya menyadari bahwa bahkan tindakan kecil seperti 'Salam' mengandung segala hal seperti cinta, persatuan, rasa hormat dan pengampunan.
Kampanye “Bahasa Cinta Ibu” merupakan anugerah luar biasa yang diberikan kepada kita.